Belajar Menjadi Lebih Tangguh


Udara begitu panas, saya terbangun. Jam menunjuk pukul 10.30 malam. Sudah berapa jam saya tertidur sejak kembali dari kantor? Barangkali sekitar satu setengah jam. Ah, iya. Seperti kemarin, hari ini jam pulang menjadi lebih lama karena ada kewajiban yang harus diselesaikan. Seharusnya selepas maghrib tadi satu pekerjaan bisa terselesaikan lagi tetapi badan ini merintih meminta jatah istirahat.

Dulu ketika masih bersebelahan kamar dengan sahabat, saya bebas mengeluhkan apa saja pada dia. Tapi sekarang tidak mungkin lagi. Segala lelah dan pahit manis kehidupan harus ditelan sendiri. Hehe, begitulah resiko tinggal di perkotaan tanpa orang tua. Beban hidup menjadi dua kali lipat dibanding masa-masa kuliah dulu.

Memutar otak bagaimana agar makan hari ini bisa terpenuhi. Disamping kerja kantoran, saya akhirnya memutuskan untuk berjualan online lagi. Selain untuk menambah pemasukan, saya memang senang melakukannya walau prosesnya lama dan hasil yang didapat tidak seberapa. Daripada tidak ada pemasukan, lebih baik seperti itu. Tidak kerja, ya tidak makan. Heheheh.

Gambar : pinterest

Disela-sela semua kesibukan, sepertinya bulan Maret saya mesti menyempatkan olahraga setidaknya sekali dalam sepekan untuk jogging untuk melemaskan persendian dan otot-otot. Bahaya juga kalau setiap bulan harus merasakan sakit punggung karena kelamaan duduk.

Sakit paha dan betis karena rajin bolak-balik lantai 1-3. Apalagi lengan, pergelangan tangan, dan buku-buku jari rasanya menjadi lebih tebal akibat terlalu lama memegang handphone. Peredaran darah menjadi tidak lancar. Jangan tanya mata sakitnya bagaimana, begitulah kalau terlalu sering menatap layar handphone.

Kadang-kadang saya berpikir, kalau kembali ke kampung halaman dan memilih untuk stay di sana, apakah hidup saya akan selelah ini? Memutuskan untuk hidup seperti ini selalu membuat ibu khawatir. Saya seorang perempuan yang senang pulang malam, belum menikah, dan sangat mudah kelelahan atau sakit-sakitan. Tapi tidak apa.

Senang rasanya bisa merasakan perjuangan hidup seperti ini. Saya senang dengan ketidakpedulian orang-orang tentang apa yang saya lakukan yah setidaknya hal itu tidak separah di kampung halaman sana walau resikonya memang berat. Apalagi kalua sedang sakit begini. Mau mengeluh pada siapa? Justru hal seperti itu yang mengajarkan saya untuk mandiri.

~~~

Ah, semoga segala hal yang menjadi keputusan saat ini bisa menguatkan untuk hari-hari kedepannya.



Ps : ditulis dengan segala rasa lelah dan letih, rasanya ingin menangis karena sakit seluruh badan. Hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pecicilan vs. Kalem?

Menjadi Wali Tunggal

Menjejaki Tahun Baru