Takut Banjir

Sejak beberapa jam lalu, hujan deras mengguyur Kota Makassar. Jalanan depan kosan sedikit meluap, saya baru tahu ketika keluar kamar demi membuang sampah dan ingin ke kios kecil di ujung lorong. Sebenarnya akan lebih nikmat jika bisa merasakan langsung rintik hujan membasahi tubuh dan agar tidak ada yang tahu kalau seseorang sedang menangis, yah seperti mengulang masa kecil; menari bersama hujan.

Pelan-pelan saya melangkahkan kaki, rasanya berat juga menyeret langkah diluapan air selokan. Ew... sebentar lagi kaki saya akan gatal! Tiba di warung lalu membeli mie dan telur serta sosis. Selain belum makan apa-apa sedari pagi, hujan-hujan begini menyantap makanan hangat memang pilihan tepat.

Bau indomie rasa coto Makassar tercium dari panci, tidak sabar segera menyantapnya. rasa lapar semakin mendera. Sesendok demi sesendok saya habiskan, ditambah lagi ada pilus sebagai pelengkap. Sempurna sudah sore hari ini. Kesenangan sepertinya tidak bisa berlama-lama menghampiri. Saya menyadari sesuatu.

hujan di sekolah
Hujan Deras. Foto : Piya
Kalau musim hujan begini biasanya disertai banjir. Apalagi musim hujan tahun lalu, penghuni kosan dibuat panik. Banjir sampai masuk kedalam kamar. Kala itu saya mencoba tetap tenang walau rasanya ingin menangis tapi harus tetap bertanggungjawab pada adik. Kalau saya menangis dan panik, adik saya bisa jadi reaksinya melebihi apa yang saya lakukan.

Tapi karena sejak kecil ibu sudah mendidik saya menjadi orang yang bisa mengandalkan diri sendiri sebab situasi-situasi tidak terduga kadang menempatkan kita menjadi tempat bergantung, bukan lagi sebagai orang yang terus berharap pertolongan dari orang lain. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika masih tinggal bersama kakak, rasanya seperti masih ada pelindung, masih ada yang bisa menenangkan. Masih ada kakak yang bisa dimintai tolong.

Bagaimana kalau tahun ini air meluap lagi? Barang-barang dikamar ini kenapa terlihat jadi lebih banyak? Padahal saya selalu menyortir barang-barang yang tidak lagi terpakai. Rasanya ingin segera pindah kosan mengingat sahabat saya di kamar sebelah juga sudah lama pulang kampung.

Eh, iya. Tahun lalu kami sama-sama menguatkan diri untuk tetap tenang. Hahahah, begitulah rasanya ketika menjadi anak rantau. Jauh dari orangtua memang banyak mengajarkan keberanian tapi disisi lain tidak selalu demikian.

Ah, semoga kali ini banjir tidak gila-gilaan. Saya bisa sedikit gila dibuatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pecicilan vs. Kalem?

Menjadi Wali Tunggal

Menjejaki Tahun Baru