Jangan Katakan Sundala'!

Jadi ini menurut saya adalah sebuah peristiwa besar. Eh, bukan cuma menurut saya saja, sih. Beberapa orang mengatakan ini sudah keterlaluan. Orang yang mengatakan ini seperti tidak pernah mengenyam pendidikan atau kalau memang tidak pernah, setidaknya dia tahu apa makna dibalik kata itu.

Apa, ya? Sedari tadi tidak jelas, eheheh. Begini, akhir-akhir ini tepatnya hampir 2 tahun belakangan emosi saya sulit terkontrol, sangat meledak-ledak. Menjadi super egois, super emosional, lebih mengutamakan kenyamanan diri sendiri, jarang memikirkan perasaan orang lain, semuanya adalah efek dari masalah-masalah yang saya hadapi.

As you know, emosi yang biasa saja kadangkala sulit diredam terlebih jika emosi terpendam selama bertahun-tahun lamanya. Belakangan ini, saya yakin ada banyak hal yang saya lakukan tanpa sadar dan itu menyakiti orang lain. Parahnya lagi saya selalu membela diri dan tidak ingin meminta maaf.

Salah satu contoh terparah ketika saya mengatakan sundala'. Tahu kan artinya apa? Bagi orang Makassar, mungkin tidak ada lagi yang lebih kasar dibanding kata itu. Tidak perlu disensor ya, supaya kalian tahu betapa kasarnya kata itu. Gara-gara itu pula, saya nyaris kehilangan harapan hidup. Unsur ketidaksengajaan karena cemburu dan sebenarnya saya tidak tahu apa makna dibalik perkataan yang saya ucapkan.

Parah, ya? Salah satu teman saya tidak menyangka saya bisa sekasar itu. Jadi bagi kalian yang ingin mengumpat entah karena kesal, marah, sedih, emosi atau apapun itu, cara terbaik adalah dengan diam dan menenangkan pikiran. Terutama jika yang dihadapi adalah orang yang disayang. Sebelum berucap sesuatu, mengertilah dulu makna dibalik kalimat yang ingin diucapkan.

Jauh-jauh hari, seorang teman pernah mengingatkan saya untuk tidak melakukan hal-hal yang akan menimbulkan penyesalan ditengah-tengah menghadapi masalah berat. Tetap saja, sekali lagi, ini sangat sulit dikontrol. Tapi saya akan berusaha sekuat tenaga mengatur emosi saya.

Bless me!

Sekian tulisan ini. Hiks.
Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Tua

"Budaya" KEPO

Menjadi Wali Tunggal