Postingan

Takut Banjir

Gambar
Sejak beberapa jam lalu, hujan deras mengguyur Kota Makassar. Jalanan depan kosan sedikit meluap, saya baru tahu ketika keluar kamar demi membuang sampah dan ingin ke kios kecil di ujung lorong. Sebenarnya akan lebih nikmat jika bisa merasakan langsung rintik hujan membasahi tubuh dan agar tidak ada yang tahu kalau seseorang sedang menangis, yah seperti mengulang masa kecil; menari bersama hujan.
Pelan-pelan saya melangkahkan kaki, rasanya berat juga menyeret langkah diluapan air selokan. Ew... sebentar lagi kaki saya akan gatal! Tiba di warung lalu membeli mie dan telur serta sosis. Selain belum makan apa-apa sedari pagi, hujan-hujan begini menyantap makanan hangat memang pilihan tepat.
Bau indomie rasa coto Makassar tercium dari panci, tidak sabar segera menyantapnya. rasa lapar semakin mendera. Sesendok demi sesendok saya habiskan, ditambah lagi ada pilus sebagai pelengkap. Sempurna sudah sore hari ini. Kesenangan sepertinya tidak bisa berlama-lama menghampiri. Saya menyadari sesu…

Menjejaki Tahun Baru

Gambar
Bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) kemarin, seseorang telah menapaki jejak hidup dengan bertambahnya usia yang diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Bentar, syahdu sekali paragraf pertama ini. Hahahaha. Semakin memasuki usia yang terbilang matang (dan memasuki usia pernikahan menurut standar orang Indonesia), membuat saya semakin memikirkan makna kehidupan.
Tidak ada perayaan bersama teman-teman dan birthday cake seperti ketika masa-masa awal menjadi mahasiswa, tahun 2013-2014 kalau tidak salah. Tidak ada hebohnya pecah telur dan mandi terigu dari teman-teman yang biasanya diakhiri mandi terigu bareng. Sejak 2015 saya memang memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal serupa lagi.
Bukan karena tidak ingin disebut alay tapi alasannya terbilang sepele. Sampai detik ini saya masih tidak menemukan alasan mengapa hari lahir kebanyakan dihiasi dengan kue tart dan... yahh lilin. Sedikit geli, seringkali cemas melihat kue-kue itu dinodai dengan lelehan-lelehan lilin jik…

Jangan Katakan Sundala'!

Jadi ini menurut saya adalah sebuah peristiwa besar. Eh, bukan cuma menurut saya saja, sih. Beberapa orang mengatakan ini sudah keterlaluan. Orang yang mengatakan ini seperti tidak pernah mengenyam pendidikan atau kalau memang tidak pernah, setidaknya dia tahu apa makna dibalik kata itu.
Apa, ya? Sedari tadi tidak jelas, eheheh. Begini, akhir-akhir ini tepatnya hampir 2 tahun belakangan emosi saya sulit terkontrol, sangat meledak-ledak. Menjadi super egois, super emosional, lebih mengutamakan kenyamanan diri sendiri, jarang memikirkan perasaan orang lain, semuanya adalah efek dari masalah-masalah yang saya hadapi.
As you know, emosi yang biasa saja kadangkala sulit diredam terlebih jika emosi terpendam selama bertahun-tahun lamanya. Belakangan ini, saya yakin ada banyak hal yang saya lakukan tanpa sadar dan itu menyakiti orang lain. Parahnya lagi saya selalu membela diri dan tidak ingin meminta maaf.
Salah satu contoh terparah ketika saya mengatakan sundala'. Tahu kan artinya apa…

Surat Untuk Diriku

Dear, Nurul Irsal Amalia..
Aku ingin mengucapkan selamat padamu untuk segala hal yang pernah terjadi dalam hidupmu sejak kau diciptakan oleh Tuhan, sampai detik ini, kau hebat!
Mengapa kuberi selamat? Sebab sampai saat ini kau masih mampu bertahan hidup dengan segala kesakitan yang kau pikul sendirian. Bukan berarti tak ada seorang pun yang tahu kau sakit, tapi hanya kau seorang yang tahu persis keadaanmu.
Kau pernah menjadi saksi pertengakaran-pertengakaran orangtuamu dimasa lalu. Kau pernah menjadi tempat berkeluh kesah ibumu disaat seharusnya masa remajamu begitu menyenangkan. Kau pernah berpikir bunuh diri ketika SMA. Kau pernah merasakan sakit saat melihat ibumu akrab lagi dengan mantan pacarnya. Kau pernah begitu membenci bapakmu. Kau pernah begitu membenci keadaan rumah orangtuamu di kampung, bak neraka. Kau pernah mengalami kisah percintaan yang tidak berhasil, kau ditolak berkali-kali dengan orang yang berbeda. Kau pernah melakukan segala sesuatu sendirian. Kau pernah merasa…

Lupa Cara Menangis

Gambar
Menangis adalah salah satu bentuk ekspresi perasaan entah karena sedang sedih atau karena terharu. Menangis bukan berarti karena lemah tetapi bisa juga menguatkan. Terlahir sebagai loner atau penyendiri mungkin sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tipikal itu. Saya adalah perempuan yang sejak kecil sering menangis. Gampang tersentuh oleh hal-hal sepele.
Terlebih lagi ketika masa-masa depresif terjadi, tanpa alasan yang pasti air mata bisa jatuh begitu saja. Tertekan? Tentu saja. Tidak mampu mengurai permasalahan hidup satu-persatu adalah salah satu alasan yang menjadi pemicu. Segala apa yang ada dikepala seolah benang kusut yang tidak tahu bagaimana cara mengurainya.
Hari ini, 19 Juli tepat dua bulan saya jarang menangis. Kurun dua bulan ini terhitung hanya 6 kali saya menangisi sesuatu, itupun tidak sampai membuat mata bengkak berhari-hari. Pertanyaan-pertanyaan kemudian muncul dibenak, kemana perginya hal-hal yang membuat saya sedih? Apakah karena sudah terlalu kenyang …

Mie Instan 14 April

Gambar
Tidak ada kaitan khusus antara ribuan bungkus mie instan yang pernah saya makan dengan tanggal hari ini. Hanya ingin memberi judul seperti itu. Oh ya, tulisan tentang mie instan ini tercipta karena cara memasaknya agak sedikit berbeda dari yang biasa saya buat. Sebenarnya tidak ada rencana khusus siang ini ingin makan apa, rasanya malas juga untuk bergerak memasak perkedel jagung, tumis kangkung, dan sambal tomat seperti kemarin.
Tepat pukul 12.00 siang tadi, adik saya pergi mengikuti kegiatan sekolahnya, saya batal mengekor untuk mengambil sesuatu. Terlanjur sudah berpakaian dan didera lapar yang tidak kelaparan (lah?) tiba-tiba terlintas ide untuk membuat mie instan dicampur sosis dan telur ayam. Hmm betapa nikmatnya, saya membayangkan.
Beberapa menit kemudian. Mie instan sudah ditangan, sosis seharga seribu rupiah sebanyak 3 buah, sebutir telur ayam, dan pilus garuda sebagai pelengkap. Saya memanaskan air (bukan dibawah terik matahari) diatas kompor gas (yang tentu saja sudah meny…

Ga Tahu

Gue tiba-tiba mendapati diri ini jadi pelupa dan dingin banget ke orang lain. Dari yang dulunya kata orang gue humble, senang menyapa orang, ceria, semuanya sudah jadi masa lalu. Gue tau kenapa gue kayak gini dan gak semua orang tau alasannya. Untuk level manusia, cuma beberapa orang teman yang bisa memahami kondisi gue itu pun tidak 100%. Mereka gak akan bisa mencapai angka 100 karena kalo sudah sampai angka itu berarti apa yang gue rasakan akan mereka rasakan juga.

Kalimat-kalimat seperti "lu berubah, lu ga seceria dulu, lu jadi pendiam banget, muka lu lesu, bla bla bla" itu semua sudah gak asing ditelinga gue. Kalo ada orang sok kenal, sok akrab, atau kalau yang cuma ada maunya ke gue, sok atuh gue jabanin. Tapi itu dulu. Dulu gue senang making a friend sama perempuan, bakal ramah dan tetap meladeni chat tidak penting dari laki-laki yang gue tahu cuma modus doang, alasannya sih dulu demi menjaga kesopanan. Halah!

Tapi sekarang? Kenyataannya semua jadi membosankan. Gue jad…