Postingan

Belajar Menjadi Lebih Tangguh

Gambar
Udara begitu panas, saya terbangun. Jam menunjuk pukul 10.30 malam. Sudah berapa jam saya tertidur sejak kembali dari kantor? Barangkali sekitar satu setengah jam. Ah, iya. Seperti kemarin, hari ini jam pulang menjadi lebih lama karena ada kewajiban yang harus diselesaikan. Seharusnya selepas maghrib tadi satu pekerjaan bisa terselesaikan lagi tetapi badan ini merintih meminta jatah istirahat.
Dulu ketika masih bersebelahan kamar dengan sahabat, saya bebas mengeluhkan apa saja pada dia. Tapi sekarang tidak mungkin lagi. Segala lelah dan pahit manis kehidupan harus ditelan sendiri. Hehe, begitulah resiko tinggal di perkotaan tanpa orang tua. Beban hidup menjadi dua kali lipat dibanding masa-masa kuliah dulu.
Memutar otak bagaimana agar makan hari ini bisa terpenuhi. Disamping kerja kantoran, saya akhirnya memutuskan untuk berjualan online lagi. Selain untuk menambah pemasukan, saya memang senang melakukannya walau prosesnya lama dan hasil yang didapat tidak seberapa. Daripada tidak ad…

Kegirangan Dapat Kerjaan

Gambar
Cerita ini sudah lama saya ingin tulis tapi karena terlalu sering menunda--ini kebiasaan buruk jangan ditiru--makanya baru sekarang bisa ditulis. :D 
Akhir tahun lalu saya dapat pesan whatsapp dari senior di satu komunitas yang kala itu sedang melakukan perekrutan anggota baru, Pecandu Aksara. Isinya tentang ajakan kerjasama. Bingunglah saya sekaligus sedikit senang mencium bau status pengangguran akan segera terlepas.
Setelah tahun baru, tepatnya tanggal 3 Januari saya datang ke kantor itu bertemu dengan kakak owner dan langsung wawancara pula. Setelah panjang lebar menjelaskan dan kadang-kadang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya tapi saat itu saya cukup bisa menangkap maksud si kakak owner ini. Maklum, lemot.
Tidak perlu menunggu sampai besok, bismillah saya langsung menerima tawaran kerja itu. Sebenarnya saya banyak-banyak dihinggapi rasa heran, tapi sekali lagi saya tergiur untuk segera berganti status dari pengangguran jadi tidak pengangguran. Akhirnyaaaaa setelah 8 b…

Jangan Minta

Tempo hari bapak bilang, "Eh, jangan minta-minta. Beli sendiri sana!" Beliau lalu memberi selembar dua puluhan untuk membeli gula pasir. Waktu itu bapak sedang menginap di kos bersama ibu dan adik. Pagi-pagi ingin buat teh dan kopi tapi gula pasir punya saya habis. Spontan saya berteriak pada sahabat di kamar sebelah, "Fatwaaaaa gula pasirmu dule!"
Bagaimana bapak tidak misuh-misuh melihat kelakuan anak perempuannya seperti itu. Meminta dengan cara berteriak. Padahal, kami biasa saja melakukan itu bahkan hampir setiap hari berbincang hal-hal sepele di kamar masing-masing.
"Fatwaaaa, ayo ke kampus, weh!" "Ayooo! Tapi tunggu dulu baru ka' bangun!" Atau "Fatwaaaa, sudah mandi?" "Iyooo, sudah. Kenapa?" Atau "Luuuu, apa kau bikin?" "Mau makan. Sini ko makan, weh!" "Ada garammu? Minta, nah!" "Bah, sini mi ambil."
Seperti itulah kami saling meneriaki membahas atau meminta sesuatu. Memang …

Takut Banjir

Gambar
Sejak beberapa jam lalu, hujan deras mengguyur Kota Makassar. Jalanan depan kosan sedikit meluap, saya baru tahu ketika keluar kamar demi membuang sampah dan ingin ke kios kecil di ujung lorong. Sebenarnya akan lebih nikmat jika bisa merasakan langsung rintik hujan membasahi tubuh dan agar tidak ada yang tahu kalau seseorang sedang menangis, yah seperti mengulang masa kecil; menari bersama hujan.
Pelan-pelan saya melangkahkan kaki, rasanya berat juga menyeret langkah diluapan air selokan. Ew... sebentar lagi kaki saya akan gatal! Tiba di warung lalu membeli mie dan telur serta sosis. Selain belum makan apa-apa sedari pagi, hujan-hujan begini menyantap makanan hangat memang pilihan tepat.
Bau indomie rasa coto Makassar tercium dari panci, tidak sabar segera menyantapnya. rasa lapar semakin mendera. Sesendok demi sesendok saya habiskan, ditambah lagi ada pilus sebagai pelengkap. Sempurna sudah sore hari ini. Kesenangan sepertinya tidak bisa berlama-lama menghampiri. Saya menyadari sesu…

Menjejaki Tahun Baru

Gambar
Bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) kemarin, seseorang telah menapaki jejak hidup dengan bertambahnya usia yang diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Bentar, syahdu sekali paragraf pertama ini. Hahahaha. Semakin memasuki usia yang terbilang matang (dan memasuki usia pernikahan menurut standar orang Indonesia), membuat saya semakin memikirkan makna kehidupan.
Tidak ada perayaan bersama teman-teman dan birthday cake seperti ketika masa-masa awal menjadi mahasiswa, tahun 2013-2014 kalau tidak salah. Tidak ada hebohnya pecah telur dan mandi terigu dari teman-teman yang biasanya diakhiri mandi terigu bareng. Sejak 2015 saya memang memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal serupa lagi.
Bukan karena tidak ingin disebut alay tapi alasannya terbilang sepele. Sampai detik ini saya masih tidak menemukan alasan mengapa hari lahir kebanyakan dihiasi dengan kue tart dan... yahh lilin. Sedikit geli, seringkali cemas melihat kue-kue itu dinodai dengan lelehan-lelehan lilin jik…

Jangan Katakan Sundala'!

Jadi ini menurut saya adalah sebuah peristiwa besar. Eh, bukan cuma menurut saya saja, sih. Beberapa orang mengatakan ini sudah keterlaluan. Orang yang mengatakan ini seperti tidak pernah mengenyam pendidikan atau kalau memang tidak pernah, setidaknya dia tahu apa makna dibalik kata itu.
Apa, ya? Sedari tadi tidak jelas, eheheh. Begini, akhir-akhir ini tepatnya hampir 2 tahun belakangan emosi saya sulit terkontrol, sangat meledak-ledak. Menjadi super egois, super emosional, lebih mengutamakan kenyamanan diri sendiri, jarang memikirkan perasaan orang lain, semuanya adalah efek dari masalah-masalah yang saya hadapi.
As you know, emosi yang biasa saja kadangkala sulit diredam terlebih jika emosi terpendam selama bertahun-tahun lamanya. Belakangan ini, saya yakin ada banyak hal yang saya lakukan tanpa sadar dan itu menyakiti orang lain. Parahnya lagi saya selalu membela diri dan tidak ingin meminta maaf.
Salah satu contoh terparah ketika saya mengatakan sundala'. Tahu kan artinya apa…

Surat Untuk Diriku

Dear, Nurul Irsal Amalia..
Aku ingin mengucapkan selamat padamu untuk segala hal yang pernah terjadi dalam hidupmu sejak kau diciptakan oleh Tuhan, sampai detik ini, kau hebat!
Mengapa kuberi selamat? Sebab sampai saat ini kau masih mampu bertahan hidup dengan segala kesakitan yang kau pikul sendirian. Bukan berarti tak ada seorang pun yang tahu kau sakit, tapi hanya kau seorang yang tahu persis keadaanmu.
Kau pernah menjadi saksi pertengakaran-pertengakaran orangtuamu dimasa lalu. Kau pernah menjadi tempat berkeluh kesah ibumu disaat seharusnya masa remajamu begitu menyenangkan. Kau pernah berpikir bunuh diri ketika SMA. Kau pernah merasakan sakit saat melihat ibumu akrab lagi dengan mantan pacarnya. Kau pernah begitu membenci bapakmu. Kau pernah begitu membenci keadaan rumah orangtuamu di kampung, bak neraka. Kau pernah mengalami kisah percintaan yang tidak berhasil, kau ditolak berkali-kali dengan orang yang berbeda. Kau pernah melakukan segala sesuatu sendirian. Kau pernah merasa…